Tragedi 1896 di Borobudur
Rombongan yang terdiri dari raja Culalangkorn dan istri diikuti keluarga raja, sodara tiri raja Darnrong Rajanubhap, dan pangeran Sommot. Sang raja pun naik sampai lantai bagian atas membawa persembahan bunga kamboja dan berdoa.
Tujuan utama raja Thailand sebenarnya untuk mengekplorasi teknologi politik dan budaya di koloni Belanda. Sebagai raja buddhist juga melalui pendidikan dan pengalamanya, raja Chulalangkorn tahu konstruksi bangunan Buddhis dan Hindu. Dia juga sudah membaca buku karangan Raffles " The History of Java " (1817). Raja Chulalangkorn juga mengembangkan minat khusus pada barang-barang antik dan situs situs keagamaan dimasa lalu dengan alasan ilmiah, agama dan politik.

Borobudur membuat raja Chulalangkorn terperangah, terkejut dan terpesona yang menimbulkan rasa ingin tahu yang kuat secara intellectual.
'Orang orang di Jawa pada masa lalu pasti mengerti sejarah dan ajaran Buddha secara terperinci, jauh lebih baik dari yang kita pelajari di masa sekarang" (Chulalangkorn 1896)
Setelah mengunjungi candi Prambanan lalu raja Chulalangkorn mengunjungi Borobudur di Magelang. Selama kunjunganya di Prambanan, dua tokoh terkemuka masyarakat arkeologi yaitu R.M.E Raaf dan ketua kehormatan Isaac Groneman menjadi sangat terkesan dengan pengetahuan raja Chulalangkorn tentang monumen Hindu dan Buddha. Raja Thailand pun mendapatkan keanggotaan kehormatan di Masyarakat Arkeologi. Dam mengundang siapa saja yang mau berdiskusi, serta menyumbang 200 gulden untuk Masyarakat Arkeologi.
Raja mengahiri kunjunganya di Borobudur dengan 2 permintaan, dengan konsekwensi yang sangat besar untuk candi Borobudur.
Pertama setelah memberikan persembahan bunga dan berdoa di stupa utama, ia meminta kesempatan untuk membubuhkan tanda tanganya didinding stupa utama ini, dan mengeluarkan perintah kerajaan bahwa tanda tanganya harus diukir dengan emas.
Ahirnya beberapa tahun kemudian Van Erp yang bertanggung jawab atas pemugaran yang pertama 1907-1911 marah besar dengan dua transaksi yang dilakukan oleh raja Chulalangkorn. Dan dihapuslah tanda tangan raja tersebut.
Dengan persetujuan resmi yang sebelumnya telah diberikan oleh Gubernur Jenderal C.H.A Van Der Wijck, raja Chulalangkorn memilih cendera mata dengan seksama yang diambil dari Borobudur dan candi lainya untuk dibawa pulang ke Bangkok.
Dengan muatan penuh 8 kereta pedati raja Chulalangkorn membawa artefak pilihan dari Jawa.
Beberapa diantaranya lima dyani Buddha dengan ke lima mudranya, beberapa relief, dua patung singa utuh, kepala kala makara, jala dwara,dan arca dwarapala yang ada di bukit sebelah barat laut Borobudur.
Reaksi kemarahan publik pun muncul meskipun terlambat. Mantan jurnalis Hindia Belanda J.F Scheltema menyebut seluruh masa episode itu sebagai "Tahun yang menjadi mala petaka bagi Borobudur". Dia mengecam pemberian sebagai hadiah.
Berdasarkan korespondesi antara Hindia Belanda dengan pemerintah Yogyakarta dan Magelang Kedu, Jenderal Van Der Wijck hanya menyetujui raja Chulalangkorn mengambil satu arca Buddha dari Borobudur itu pun dengan catatan "kalau mungkin".
Namun raja Chulalangkorn sudah mengincar dan memusatkan perhatianya pada Borobudur, dan Ia telah memberi kesan yang mendalam pada tuan rumahnya dan ahirnya residence Kedu mengusulkan kepada Gubernur Jenderal dengan lelegram, yang isinya mungusulkan diijinkanya raja Thailand itu untuk membawa pulang beberapa artefak dr jawa. Dan sang Gubernur pun mengijinkanya.
Sumber Borobudur Bersumbirat Salim lee





Comments
Post a Comment